Tamu Debt Collector

11 Apr 2008

debtcollcetor.jpgKamis 3 April 2008 pukul 19.30 WIB.
Bang Ian: Kamu dimana?
Aku: Dijalan mau pulang, ada apa?
Bang Ian: Jangan pulang dulu, dirumah ada orang Timor, serem. Tunggu aku pulang dulu

Sampai dirumah ternyata bener ada orang asal Timor Timur (sekarang Timor Leste) lagi nonton TV sendirian. Dia agak sungkan dan minta maaf karena ada di rumahku tiba-tiba. Aku bilang gak apa-apa santai aja. Beda 5 menit Bang Ian kemudian datang.

Perawakan dan bicaranya khas orang Timur. Namanya Marcel, dia datang karena ada urusan menyelesaikan soal utang di Jakarta. Dia mampir ke rumah dengan izin Bang Ian menunggu dijemput travel ke Cilacap. Pekerjaannya debt collector.

Pertama kali denger pekerjannya debt collector, pikiranku melayang kalau dia tukang pukul, punya senjata, suka mengancam dan semua yang serba serem-serem.

Aku coba ngobrol bareng dia. Marcel mengaku sudah 9 tahun tinggal di Cilacap. Dia adalah korban pendukung Indonesia ketika referendum di Timor Timur tahun 1999. Pada 4 September 1999 Sekjen PBB
Kofi Anam mengumumkan hasil referendum di Timor Timur: 79% penduduk yang berhak memilih menghendaki merdeka, lepas dari Indonesia.

Sejak pro integerasi kalah, Marcel memilih tinggal di Indonesia. Sempat malang melintang di Jakarta kemudian akhirnya menetap di Cilacap. Marcel telah berkeluarga dan istrinya asli orang Jawa. Pantas saja bahasa Indonesianya lumayan bagus.

“Saya belum pernah pulang lagi ke Timor sejak tahun 1999. Kangen juga tapi belum saatnya pulang, kalau ribut terus gimana masa depan kita,” kata Marcel.

Marcel mengaku menjadi debt collector adalah caranya mencari nafkah. Tapi jangan samakan dia dengan tukang pukul. Marcel memilih jalan negosiasi. Walaupun diakuinya cukup makan waktu tapi lebih ada hasilnya.

“Kebanyakan yang saya datangi itu malah jadi teman, kita kerja kan gak cuma cari duit. Kata orang debt collector itu kaya, itu enggak bener buktinya saya,” aku Marcel yang memang penampilannya sederhana.

Aku sempat menanyakan debt collector yang kebanyakan main kasar sama nasabahnya, sampai ngancem atau main senjata. “Itu kalau yang baru-baru dan orangnya pingin cepet selesai, kebanyakan di bank asing debt collectornya gak telaten, padahal kan yang penting dia bayar,” katanya.

Masih kata Marcel, dalam bekerja dia biasanya melihat kondisi nasabahnya. Dia akan melihat proporsional kasusnya. Tapi yang penting dia bayar. “Orang itu justru mau bayar kalau diomonginnya enak,” katanya.

Walah… ternyata si Marcel itu pelobi ulung keliatan gaya ngomongnya yang lugas dan sederhana. Hilang deh bayangan debt collcetor is tukang jagal. Coba kalo semua debt collector bisa sabar kayak
dia.

Selain soal kerjaannya, Marcel juga cerita soal teman-temannya Eurico Gueters, Hercules. Termasuk soal Prabowo yang pernah diculik di Timor Timur lalu diselamatkan Hercules. Soal Ramos Horta yang gak ada darah Timornya dan gak pernah tahu susahnya hidup orang Timor, Xanana Gusmao yang punya indra keenam, Mari Alkatiri si Arab yang sama aja kelakuannya kayak politisi di Indonesia.

Marcel banyak cerita serem soal mereka, yang gak bisa aku ceritain. Kalau aku ceritain disini bisa-bisa si Marcel dikejar-kejar orang. Dari Marcel akhirnya bisa juga lihat sisi lain debt collector.


TAGS


-

Author

Follow Me

Search

Recent Post


Categories

Archive